Di desa terpencil Oetuke, kami mendengar seruan kuat untuk mendapatkan pendidikan yang baik, sebuah harapan untuk masa depan di mana setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan menjadi apa yang mereka inginkan. Perjalanan untuk mewujudkan harapan ini tidaklah mudah, terutama bagi anak-anak yang tidak dapat pergi ke sekolah dengan mudah karena jarak yang terlalu jauh dan biaya yang mahal. Di sinilah kisah kami dimulai, dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Oetuke yang menjadi cahaya harapan dan pembelajaran bagi anak-anak di desa yang jauh ini.
SMP Oetuke bukan hanya sebuah sekolah – ini adalah jawaban atas kebutuhan besar. Setelah menyelesaikan sekolah dasar (SD), anak-anak di Oetuke menghadapi masalah besar: sekolah menengah pertama terdekat harus ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam. Ini adalah perjalanan yang sulit dan tidak aman, dan biaya untuk mendapatkan tumpangan terlalu mahal bagi banyak keluarga. Ditambah lagi, kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang tersedia tidak cukup baik. Sebagai contoh, bahkan setelah 12 tahun bersekolah (hingga tingkat SMA), para siswa masih kesulitan dengan matematika dasar dan tidak mengetahui fakta-fakta dasar tentang Indonesia.
Membangun gedung sekolah baru di daerah terpencil seperti Oetuke sangatlah sulit. Jadi, kami memutuskan untuk tidak fokus pada pembangunan saat ini. Sebaliknya, tujuan utama kami adalah menciptakan kurikulum yang hebat dan memastikan kami memiliki guru-guru terbaik.
Bahkan tanpa gedung baru, kami percaya bahwa pengajaran yang baik dan kurikulum yang kuat dapat mewujudkan pembelajaran yang nyata di mana saja. Sementara desa akan mengelola ruang kelas, menggunakan ruang-ruang di sekolah yang ada saat ini seperti SMAK atau SD, kami akan bekerja keras untuk memastikan pendidikan yang didapat anak-anak sangat kuat dan membantu mereka berhasil.
Di EGI, kami selalu bertujuan untuk memfokuskan upaya kami di tempat yang paling dibutuhkan sambil memberikan dampak terbesar dengan sumber daya yang kami miliki. Saat ini, fokus utama kami adalah pada pusat pendidikan di Kotolin, dan karena kami belum mendapatkan sertifikat tanah untuk Oetuke, kami tidak melanjutkan pembangunan sekolah di sana saat ini. Namun, kami mengatasi kesenjangan yang kritis dengan menyediakan guru matematika untuk SMAK Oetuke, yang juga menjadi tuan rumah bagi kelas-kelas SMP Oetuke. Tanpa guru ini, para siswa tidak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan matematika yang layak, yang merupakan fondasi penting untuk menguasai ilmu pengetahuan alam lainnya. Dengan memiliki guru ini untuk memimpin kelima kelas, kami membuat perbedaan yang berarti dalam memastikan para siswa mendapatkan keterampilan matematika yang penting yang sangat penting untuk pengembangan akademis dan profesional mereka di masa depan.
Dukungan EGI bagi sekolah tersebut kini telah berakhir (2026). Sekolah tersebut dikelola oleh para pemangku kepentingan setempat, dan EGI tidak lagi terlibat dalam pendanaan maupun operasionalnya.
Pengalaman kami di Oetuke semakin memperkuat pentingnya membangun proyek-proyek pendidikan untuk jangka panjang, menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat di kalangan masyarakat setempat, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia di tempat-tempat yang dapat memberikan dampak terbesar. Saat ini, kami memfokuskan upaya kami pada Pusat Pendidikan di Kot’olin.